Sabtu, 21 Mei 2011

Nasionalisme Ala Diktaktor


Selama bertahun-tahun, kita sselalu menganggap bahwa kediktaktoran adalah musuh besar peradaban. Kita selalu menganggap bahwa diktaktor adalah sesuatu yang jauh dari perikemanusiaan, kejam dan tidak mempunyai moral sama sekali. Namun benarkah demikian? Lalu apa itu diktaktor? Bukankah Ceasar juga menyebut dirinya sebagai diktaktor dan bahkan dialah yang meletakan dasar kepemimpinan diktatorisme selama lebih dari ratusan tahun sebagai pilar kekaisaran romawi? Itulah yang kita patut pertanyakan, apakah kita benar-benar membenci kediktaktoran atau kita hanya berhalusianasi bahwa kediktaktoran akan membawa sebauah bencana yang tidak berkesudahan?

Diktaktorisme artinya orang yang memberikan dikte atau perintah. Lebih tepatnya orang yang memerintah. Secara sederhana demikian, walaupun ada lebih banyak lagi pengertian yang jauh lebih baik daripada sebuah kalimat singkat itu. Selama sejarah manusia, telah lebih dari ratusan orang menjadi diktaktor; Alexander, Caesar, Napoleon, Hitler dan masih banyak lagi. Banyak diantara mereka hanya mempunyai motivasi untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Lebih banyak lagi hanya tertarik dalam memperkaya diri dan keluarga mereka. Hanya sedikit diantara mereka yang memiliki motivasi lain, yang jauh dari pemikiran sederhanan yang tiada guna, orang-orang yang kusebut diatas adalah beberapa contoh diantaranya. Mereka adalah orang-orang unik, yang memandang dunia dari cara yang berbeda. Pemikiran mereka yang unik itulah yang nantinya merubah dunia untuk selama-lamanya.


Jarang sekali seseorang benar-benar memikirkan nasib orang lain. Kecuali terdapat beberapa faktor dari dalam yang memotivasi mereka untuk melakukannya. Meskipun itu hanya sebatas kepuasan dan harga diri. Itu bukan sebuah kesalahan, malah itulah yang menyebabkan manusia itu manusia, bukan malaikat yang melaksanakan tugas dengan tanpa motivasi dan rasa.

Nasionalisme di sisi lain juga merupakan sebuah motivasi lain. Seorang diktaktor sejati harusnya terdorong oleh rasa nasionalisme dalam segala tindakannya demi bangsa dan negaranya. Rasa nasionalisme adalah satu faktor yang kuat dan berpengaruh disamping berbagai faktor lain yang dapat mempengaruhi pemikiran seorang diktaktor. Lebih dari itu, rasa nasionalisme dianggap sebagai sebuah akumulasi dari rasa kecintaan seseorang tak terkecuali seorang diktaktor terhadap negara dan bangsanya. Rasa inilah yang mutlak perlu ada di dalam diri setiap pemimpin sejati, rasa yang lebih dari keinginan mereka, hasrat atau bahkan harga diri.

Diktaktor bukanlah sesuatu yang buruk jika ia adalah orang yang benar-benar bekerja untuk kepentingan negara dan bangsanya. 

1 komentar:

Sekolah Nasional Nusaputera mengatakan...

Keluarga Besar Perguruan Nasional Nusaputera mengucapkan Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66